• 0733 452739
  • 0733-451604
  • humas@rsudsitiaisyah-lubuklinggau.co.id

Jl Lapter Silampari Kel. Air Kuti  Lubuklinggau Timur I 31626
Telp. 0733-451604, IGD : 0733-452739 Fax 0733-452776

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RSUD SITI AISYAH KOTA LUBUKLINGGAU

RSUD Siti Aisyah GANGGUAN PENCIUMAN ( PENGHIDU )

GANGGUAN PENCIUMAN ( PENGHIDU )

GANGGUAN PENCIUMAN ( PENGHIDU )

Indera penciuman sangat erat hubungannya dengan indera pengecapan, karenanya seringkali gejala yang timbul dari gangguan kedua fungsi ini bisa bersamaan. Di sini yang akan bicarakan mengenai gangguan penciuman.

Stimulus penciuman merupakan rangsangan kimiawi. Partikel bau dapat mencapai reseptor penghidu bila menarik nafas dengan kuat atau partikel tersebut larut dalam lendir yang selalu ada di permukaan mukosa daerah hidung bagian sepertiga atas ( regio olfaktorius). Gangguan penciuman ( penghidu) akan terjadi bila ada yang menghalangi sampainya partikel bau ke reseptor saraf atau ada kelainan pada n.Olfaktorius, mulai dari reseptor sampai pusat olfaktorius.

Macam-macam kelainan penciuman

Dikatakan hiposmia jika daya penciuman berkurang. Hiposmia dapat terjadi pada penderita Rhinitis, pembesaran konka hidung, sekat hidung yang bengok, polip hidung dan juga tumor lain pada hidung. Selain itu, hiposmia juga dapat di sebabkan oleh penyakit sistemik misalnya diabetes, gagal ginjal, gagal hati serta pada pemakaian obat.

Di sebut anosmia jika daya penciuman hilang, yang bisa di sebabkan oleh trauma kepala,pada  infeksi virus, tumor seperti meningioma dan akibat proses degenerasi pada orang tua.

Parosmia bila sensasi penciuman berubah yang biasanya d sebabkan oleh trauma.

Kakosmia bila ada halusinasi bau. Kakosmia dapat terjadi pada epilepsi, pada kelainan psikologik seperti rendah diri atau apada kelainan psikiatrik seperti depresi dan psikosis. 

Interpretasi dan tindakan selanjutnya.

Hiposmia yang hilang timbul dan bervariasi derajatnya, bisa di sebabkan oleh rhinitis atau juga rhinosinusitis. Keluhan ini dapat hilang jika penyebabnya di obati. Sumbatan hidung seperti pada polip hidung, tumor hidung juga dapat menyebabkan hiposmia. Hiposmia nya akan hilang jika polip, tumor sebagai penyebab hiposmia juga hilang.

Pemakaian obat tetes hidung yang berlebihan juga bisa menyebabkan hiposmia atau anosmia, yang akan sembuh jika pemakaian obat tetes hidung di hentikan.

Kerusakan syaraf olfaktorius akibat infeksi virus menyebabkan anosmia ( hilang penciuman) atau sensasi penghidu yang samar – samar dan tidak ada bedanya untuk semua rangsang bau bauan.

Faktor usia lanjut juga dapat menyebabkan berkurang atau hilangnya daya penciuman. Terutama tidak bisa mencium bau zat yang berbetuk gas. Bahaya bagi orang tua yang hidup sendiri, tidak dapat mengetahui bila ada kebocoran gas sehingga bila terjadi kebakaran, mereka tridak menyadarinya. Kelaian ini tidak dapat di obati.

Trauma kepala ringan atau berat dapat menimnbulkan anosmia ataupun parosmia. Kelaianan penghidu ( penciuman ) yang di sebabkan oleh trauma mungkin dapat sembuh, yang akan pulih dalam beberapa minggu setelah trauma. Bila setelah 3 bulan tidak membaik, berarti prognosis nya buruk.

Tumor kepala yang menekan saraf olfaktorius juga dapat mengakibatkan gangguan penciuman.

Pada masa pandemi covid 19 seperti sekarang ini, banyak di temukan gejala hilangnya penciuman pada pasien covid 19. Hilangnya penciuman ini bersifat sementara dan akan pulih kembali setelah beberapa hari hingga beberapa minggu.Penderita anosmia biasanya akan juga mengalami gangguan selera makan, di akibatkan tidak bisa membau atau mencium bau makanan. Melatih penciuman menggunakan bau yang kuat menggunakan minyak essential berguna untuk memicu pemulihan sistem penciuman.

Terlebih dari pada itu, dalam masa pandemi covid 19 seperti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita untuk melakukan 4M yaitu : memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun dan menghindari kerumunan. Jika anda mengalami hilangnya penciuman yang tiba tiba, segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat dan tetap melakukan 4M agar anda tidak menularkan dan tidak di tularkan.

 

 Daftar Pustaka

1.      Mangunkusumo E, Gangguan Penghidu, dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan leher, Edisi ke Enam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2007, hal 160 – 161

2.      Alobid I, De Haro J, Mullol J, Smell disorders, in Otorhinilaryngology Head & Neck surgery, European manual of Medicine, springer, Germany, 2009, pegae 287-289.

3.      Walker A, Anosmia and loss of smell in the era of covid-19 BMJ 2020370 doi: https://doi.org/10.1136/bmj.m2808 (Published 21 July 2020)Cite this as: BMJ 2020;370:m2808.

 

 

by:    dr. Novirianty, Sp.THT-KL

dokter spesialis THT

RSUD Siti Aisyah Kota Lubuklinggau

 

Service Lainnya
©2015 RSUD Siti Aisyah All right reserved