• 0812 7896 1569
  • 0733-451604
  • humas@rsudsitiaisyah-lubuklinggau.co.id

Jl Lapter Silampari Kel. Air Kuti  Lubuklinggau Timur I 31626
Telp. 0733-451604, IGD : 0733-452739 Fax 0733-452776

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RSUD SITI AISYAH KOTA LUBUKLINGGAU

RSUD Siti Aisyah Penatalaksanaan Covid 19

Penatalaksanaan Covid 19

 

Penatalaksanaan Covid 19

 

 Penatalaksanaan COVID-19 tergantung derajat gejala, yaitu tanpa gejala, ringan, sedang, berat, atau kritis. Pada pasien tanpa gejala atau dengan gejala ringan sedang, isolasi mandiri dapat dilakukan di rumah. Sedangkan pasien dengan gejala berat atau risiko pemburukan sebaiknya dirawat inap.[5-7,34]

 

Sampai sekarang belum terdapat terapi spesifik untuk penatalaksanaan COVID-19. Namun, beberapa agen dipercaya memiliki efikasi dan masih terus dilakukan uji coba. Terdapat dua studi terbesar tentang terapi COVID-19 yang hingga saat ini masih berjalan secara global.[8,9]

 

Isolasi Mandiri

 

 

 

Isolasi mandiri dapat dilakukan oleh pasien COVID-19 tanpa gejala, serta pasien dengan gejala ringan dan sedang. Pasien disarankan untuk menjaga jarak dengan keluarga minimal 1 meter, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin, serta selalu memakai masker saat keluar kamar atau berinteraksi dengan anggota keluarga. Pasien juga disarankan untuk berjemur matahari minimal 10‒15 menit setiap hari, sebelum jam 9 pagi dan setelah jam 3 sore.[24,34]

 

Syarat Isolasi Mandiri

 

Isolasi mandiri (isoman) di rumah pasien harus memenuhi syarat klinis dan syarat rumah. Secara klinis adalah jika memenuhi tiga syarat, yaitu berusia <45 tahun, tidak memiliki komorbid, dan gejala ringan atau tanpa gejala.[24]

 

Rumah pasien dapat dijadikan isoman jika tersedia kamar terpisah untuk pasien, dan tersedia kamar mandi di dalam rumah. Selain itu, sebaiknya kamar pasien memiliki ventilasi yang memadai agar cahaya matahari dan udara dapat masuk.[24,34]

 

Jangka Waktu Isolasi

 

Isolasi dilakukan segera sejak seseorang dinyatakan terkonfirmasi COVID-19, paling lama dalam 24 jam sejak kasus terkonfirmasi. Berdasarkan keputusan Menkes RI bulan Mei 2021, tes PCR tidak sebagai syarat untuk menentukan isolasi selesai. Kriteria selesai isolasi menggunakan gejala sebagai patokan utama, yaitu:

 

     

  • Pada kasus terkonfirmasi dan tidak bergejala (asimptomatik): isolasi dilakukan selama sekurang-kurangnya 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi
  •  

  • Pada kasus terkonfirmasi yang bergejala: isolasi dilakukan selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah dengan minimal 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. Sehingga, untuk kasus yang mengalami gejala selama <10 hari harus menjalani isolasi selama 13 hari[24,34]
  •  

 

Penatalaksanaan Tanpa Gejala

 

Pasien COVID-19 tanpa gejala harus melakukan isolasi mandiri, dan dapat diberikan vitamin C dan vitamin D.[5-7,34]

 

Vitamin C

 

Vitamin C berperan sebagai antioksidan dan kofaktor sistem imun. Vitamin C di akumulasi intraseluler neutrofil, yang berperan dalam kemotaksis dan fagositosis mikroba. Selain itu, vitamin C juga mencegah stress oksidatif pada neutrofil dan limfosit.  Pada saat infeksi, vitamin C dibutuhkan dalam jumlah besar untuk mensupresi inflamasi dan meningkatkan imunoregulasi.[34-36]

 

Studi mengenai pengaruh vitamin C pada penanganan COVID-19 masih dipertanyakan dan diperlukan penelitian lebih lanjut. Pilihan vitamin C yang dapat diberikan adalah:

 

     

  • Vitamin C non acidic tablet oral: dosis 500 mg, setiap 6‒8 jam, selama 14 hari
  •  

  • Vitamin C tablet hisap: dosis 500 mg, setiap 12 jam, selama 30 hari
  •  

  • Multivitamin yang mengandung vitamin C: dosis 1‒2 tablet/hari, selama 30 hari[34-36]
  •  

 

Vitamin D

 

Vitamin D memiliki efek melawan virus enveloped, termasuk coronavirus. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa tingkat vitamin D dalam darah dapat menentukan risiko terinfeksi, tingkat keparahan, dan mortalitas COVID-19. Pemberian vitamin D disarankan pada pasien COVID-19, dengan dosis sebagai berikut:

 

Berikut ini merupkaan dosis vitamin D yang dapat diberikan:

 

     

  • Suplemen sediaan tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk sirup: dosis 400–1.000 IU/hari
  •  

  • Obat sediaan tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU: dosis 1000–5000 IU/hari[34,35,37]
  •  

 

Penatalaksanaan Gejala Ringan

 

Pada pasien COVID-19 derajat ringan, isolasi dapat dilakukan di rumah dengan farmakologis berupa vitamin, antivirus, serta terapi suportif seperti antipiretik, antitusif, dan ekspektoran.[5-7,34]

 

Vitamin C dan Vitamin D

 

Pemberian dosis vitamin C dan vitamin D sama dengan dosis pasien tanpa gejala.[34,35]

 

Favipiravir

 

Favipiravir merupakan antivirus yang efektif untuk terapi virus influenza. Pada pasien COVID-19, favipiravir ditemukan dapat meningkatkan klirens virus dalam 7 hari dan meningkatkan klinis pasien dalam 14 hari. Oleh sebab itu, favipiravir direkomendasikan untuk penatalaksanaan COVID-19 derajat ringan sampai sedang. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan dosis dan durasi favipiravir pada pasien COVID-19. [34,38]

 

Belum ada penelitian terkait dosis favipiravir pada anak-anak sehingga pemberian obat ini belum dianjurkan untuk pasien di bawah 18 tahun. Sedangkan dosis favipiravir pada pasien dewasa adalah:

 

     

  • Loading dose pada hari ke-1: dosis 1.600 mg, setiap 12 jam, peroral

  •  

  • Selanjutnya pada hari ke-2 hingga ke-5: dosis 600 mg, 2 kali/hari, peroral
  •  

  • Sediaan favipiravir yang ada di Indonesia: tablet 200 mg, sehingga saat peresepan perlu diberikan 40 tablet [34,38]
  •  

 

Antipiretik/Analgesik

 

Antipiretik atau analgesik diberikan pada pasien dengan suhu ≥38 °C, nyeri kepala, atau mialgia. Dapat diberikan paracetamol dengan dosis:

 

     

  • Dewasa: dosis 500–1.000 mg, setiap 4–6 jam, peroral, maksimum dosis 4.000 mg/hari
  •  

  • Anak-anak: dosis 10‒15 mg/kgBB/pemberian, dengan maksimal pemberian 4 kali dalam satu hari
  •  

 

Pada pasien COVID-19, paracetamol lebih disarankan daripada ibuprofen karena memiliki luaran yang lebih baik.[5-7,34]

 

Mukolitik, Antitusif, dan Ekspektoran

 

Pemberian mukolitik, antitusif, dan ekspektoran berfungsi untuk menurunkan gejala batuk pada pasien COVID-19.

 

N-acetylcysteine (NAC):

 

N-acetylcysteine diberikan pada pasien dengan batuk berdahak karena memiliki efek mukolitik. Selain itu, NAC juga memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, dan modulasi imun yang dapat berperan dalam pengobatan COVID-19. Dosis NAC peroral sebagai berikut:

 

     

  • Dewasa: Dosis 100‒200 mg, diberikan 3‒4 kali/hari. Dapat ditingkatkan hingga 400 mg setiap 2‒6 jam bila perlu
  •  

  • Anak: Dosis 100 mg, diberikan 3‒4 kali/hari. Dapat ditingkatkan hingga 200 mg setiap 2‒6 jam bila perlu[5-7,34,39]
  •  

 

Dextromethorphan:

 

Dosis dextromethorphan peroral sebagai berikut :

 

     

  • Dewasa: dosis 10‒20 mg setiap 4 jam, atau 30 mg setiap 6‒8 jam, atau 60 mg setiap 12 jam. Dosis maksimal 120 mg/hari.
  •  

  • Anak: Obat batuk yang dijual bebas tidak disarankan penggunaannya pada pasien anak.[5-7,34]
  •  

 

Guaifenesin:

 

Dosis guaifenesin peroral adalah:

 

     

  • Dewasa dan anak >12 tahun: 200‒400 mg setiap 4 jam (sediaan immediate release), atau 600‒1.200 mg setiap 12 jam (sediaan extended release). Dosis maksimum 2,4 gram/hari
  •  

  • Anak 6‒12 tahun: dosis 100 mg, diberikan 4 kali/hari. Dosis maksimum 400 mg/hari. Durasi terapi maksimal 5 hari
  •  

  • Anak <5 tahun: penggunaan guaifenesin tidak direkomendasikan[5-7,34]
  •  

 

Ambroxol:

 

Dosis ambroxol peroral adalah:

 

     

  • Dewasa: dosis 75 mg diberikan 1 kali/hari (sediaan kapsul lepas lambat), atau 30 mg diberikan 2‒3 kali/hari (sediaan tablet).
  •  

  • Anak usia >12 tahun: tablet 30 mg diberikan 2‒3 kali/hari
  •  

  • Anak usia >6‒12 tahun: tablet 15 mg, diberikan 2‒3 kali sehari, atau 5 mL (satu sendok obat) sediaan sirup 15 mg/5mL diberikan 2‒3 kali/hari
  •  

  • Anak usia 2‒6 tahun: 7,5 mg atau 2,5 mL (setengah sendok obat) sediaan sirup 15 mg/5mL diberikan 3 kali/hari
  •  

  • Anak usia di bawah 2 tahun: 7,5 mg atau 2,5 mL (setengah sendok obat) sediaan sirup 15 mg/5mL diberikan 2 kali/hari[5-7,34]
  •  

 

Penatalaksanaan Gejala Sedang

 

Isolasi mandiri dapat dilakukan oleh pasien COVID-19 gejala sedang, tetapi memerlukan pemantauan ketat jumlah asupan kalori dan elektrolit, status hidrasi/cairan, dan saturasi oksigen untuk evaluasi perkembangan kondisi pasien. Pasien dengan SpO2 <93% sebaiknya dirawat di rumah sakit.[5-7,34]

 

Pemantauan pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah laboratorium darah perifer lengkap termasuk hitung jenis, dan bila memungkinkan ditambahkan CRP (C-reactive protein), fungsi ginjal, fungsi hati, dan rontgen toraks secara berkala.[5-7,34]

 

Medikamentosa Peroral

 

Medikamentosa yang dapat diberikan peroral pada pasien gejala sedang yang isolasi mandiri adalah vitamin, antiviral favipiravir, dan terapi suportif. Dosis pemberian sama dengan pasien gejala ringan di atas.[34]

 

Sedangkan, pasien gejala sedang yang perlu dirawat di rumah sakit diberikan tambahan medikamentosa intravena (IV) atau infus, di antaranya vitamin C dosis tinggi, remdesivir, dan antikoagulan.[34]

 

Vitamin C Dosis Tinggi

 

Pasien COVID-19 derajat sedang yang dirawat dapat diberikan vitamin C intravena, yaitu drip infus dengan dosis 200‒400 mg/8 jam, di dalam 100 mL NaCl 0,9% habis dalam 1 jam.[34-36]

 

Namun, sampai saat ini belum ada penelitian terkontrol untuk mengkonfirmasi keefektifan vitamin C IV dosis tinggi. Rekomendasi penggunaan vitamin C baru berdasarkan penelitian dengan subjek kecil.[64]

 

Remdesivir

 

Remdesivir ditemukan dapat membantu penyembuhan, dan berhubungan dengan tingkat pulang yang lebih tinggi pada pasien COVID-19 yang dirawat inap. Namun, remdesivir tidak ditemukan dapat menurunkan mortalitas. Dosis yang disarankan pada derajat sedang adalah:

 

     

  • Dewasa: dosis 200 mg IV drip (hari ke-1), dilanjutkan 1 x 100 mg IV drip (hari ke-2 hingga ke-5, atau hari ke-2 hingga ke-10)
  •  

  • Anak: Sesuai indikasi dan aturan dosis[34,40,41]
  •  

 

Antikoagulan

 

Pemberian antikoagulan pada pasien COVID-19 bertujuan untuk mencegah tromboemboli. Sebelumnya, klinisi menilai risiko perdarahan pasien terlebih dahulu dengan skor IMPROVE. Apabila pasien memiliki skor IMPROVE <7 maka pemberian antikoagulan profilaksis dapat diberikan. Selain itu, klinisi juga perlu mengevaluasi kontraindikasi pemberian antikoagulan, seperti perdarahan aktif, riwayat alergi heparin atau heparin-induced thrombocytopenia (HIT), riwayat perdarahan sebelumnya, jumlah trombosit >25.000/mm3, dan gangguan hati berat. [34,42,43]

 

Pilihan antikoagulan profilaksis yang dapat diberikan pada pasien derajat sedang adalah:

 

     

  • Heparin berat molekul rendah (low molecular-weight heparin / LMWH): dosis standar 1 x 0,4 mL subkutan, atau
  •  

  • Unfractionated heparin (UFH): dosis 2 x 5.000 unit/hari, subkutan[34]

  •  

 

Terapi Komorbid

 

Pasien derajat sedang dengan komorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus, perlu diberikan terapi dan pemantauan komorbid sesuai kebutuhan pasien.[34]

 

Penatalaksanaan Gejala Berat atau Kritis

 

Pasien COVID-19 dengan derajat berat atau kritis perlu dirawat di ruang isolasi rumah sakit rujukan, atau dirawat secara kohorting. Pengendalian infeksi dan terapi suportif merupakan prinsip utama dalam manajemen pasien COVID-19 dengan keadaan buruk.[5-7,34]

 

Terapi oksigen

 

Terapi oksigen diberikan pada pasien dengan SpO2 <93%. Ketentuan pemberian oksigen pada penderita COVID-19 sebagai berikut:

 

     

  • Gunakan nasal kanul atau non-rebreathing mask (NRM) dosis flow 15 L/menit, kemudian titrasi hingga dosis yang memberikan target SpO2 92–96%
  •  

  • Apabila pasien tidak mengalami perbaikan klinis dalam 1 jam atau terjadi perburukan, berikan high flow nasal cannula (HFNC) dengan dosis inisiasi 30 L/menit dan FiO2 40% (fraction of inspired oxygen), target SpO2 92‒96%
  •  

  • Apabila pasien masih memiliki frekuensi nafas cepat ≥ 35x/menit, saturasi <92%, atau work of breathing masih meningkat (dispnea atau menggunakan otot bantu nafas aktif), maka titrasi flow secara bertahap 5‒10 L/menit diikuti dengan peningkatan fraksi oksigen
  •  

  • Pasien pengguna HFNC dapat dikombinasi dengan awake prone position selama 2 jam 2 kali sehari, untuk memperbaiki oksigenasi dan mengurangi kemungkinan intubasi[5-7,34]
  •  

 

Pemantauan high flow nasal cannula (HFNC) dapat menggunakan indeks ROX (respiratory rate – oxygenation) dengan penghitungan:

 

 

 

 

 

 

 

ROX index = (SpO2 / FiO2) / laju nafas

 

Apabila indeks ROX ≥4,88 pada jam ke-2, ke-6, dan ke-12, maka pasien dikategorikan sebagai ventilasi aman dan tidak membutuhkan intubasi maupun ventilasi invasif. Namun, apabila indeks ROX <3,85, maka pasien dikategorikan risiko tinggi untuk dilakukan intubasi.[5-7,34]

 

Noninvasive Ventilation (NIV)

 

Ventilasi noninvasive (noninvasive ventilation / NIV) merupakan terapi oksigen alternatif dari HFNC. Umumnya HFNC lebih dipilih daripada NIV, karena penggunaannya lebih nyaman dan lebih mudah ditoleransi. Ketentuan terapi oksigen yang diinisiasi dengan NIV adalah:

 

     

  • Gunakan mode BiPAP (bilevel positive airway pressure) yang terdiri dari NIV dan PSV (pressure support ventilation), dengan tekanan inspirasi 12‒14 cmH2O, PEEP 6-12 cmH2O, dan FiO2 40-60%
  •  

  • Tekanan inspirasi total yang dibutuhkan umumnya ≥20 cmH2O untuk mencapai volume tidal 6‒8 mm/Kg
  •  

  • Titrasi FiO2 dan PEEP (positive end-expiratory pressure) untuk mempertahankan target SpO2 92‒96%
  •  

  • Kombinasi awake prone position dengan NIV dapat dilakukan selama 2 jam 2 kali sehari untuk memperbaiki oksigenasi dan mengurangi kemungkinan intubasi[1,5-7,34]
  •  

 

Evaluasi penggunaan NIV setelah 1‒2 jam, dengan target sebagai berikut:

 

     

  • Subjektif: perbaikan keluhan dispnea dan pasien menjadi tidak gelisah
  •  

  • Fisiologis: laju pernapasan <30 kali/menit, work of breathing menurun, dan hemodinamik menjadi stabil
  •  

  • Objektif: SpO2 92‒96%, pH >7,25, PaCO2 30–55 mmHg, PaO2 >60 mmHg, rasio PF ≥200, tidal volume 6‒8 ml/kgBB[1,5-7,34]
  •  

 

Apabila pasien mengalami perburukan, seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS) berat, gagal organ ganda, dan syok, maka disarankan untuk melakukan intubasi dan ventilasi mekanik invasif.[1,5-7,34]

 

Intubasi dan Ventilasi Mekanik Invasif (Ventilator)

 

Intubasi endotrakeal dilakukan pada keadaan gagal napas hipoksemia. Tindakan ini harus dilakukan oleh petugas terlatih dengan menggunakan alat pelindung diri lengkap karena prosedur menimbulkan memperhatikan aerosolisasi.  APD termasuk masker N95 atau FFP3, kaca mata, penutup wajah, baju dan sepatu pelindung, serta  sarung tangan.[1,5-7,34]

 

Ketentuan intubasi dan ventilasi pada pasien COVID-19 sebagai berikut:

 

     

  • Preoksigenasi dengan FiO2 100% selama 5 menit diberikan dengan bag-valve mask, kantong udara, high flow nasal oxygen, atau non-invasive ventilation

     

  •  

  • Ventilasi mekanik dilakukan dengan volume tidal yang lebih rendah (4–8 mL/kgBB), tekanan inspirasi rendah (tekanan plateau <30 cmH2O), driving pressure <15 cmH2O, dan laju pernapasan 18‒25 kali/menit

  •  

  • Pada pasien ARDS sedang-berat, dilakukan protokol higher PEEP yaitu PEEP >10 cmH2O dengan pemantauan terjadinya barotrauma
  •  

  • Pada pasien hipoksia refrakter, dilakukan posisi prone 12‒16 jam/hari
  •  

  • Pemberian pelumpuh otot dapat ditambahkan jika terjadi disinkronisasi antara pasien dan ventilator persisten, plateau pressure tinggi secara persisten, dan ventilasi pada posisi prone yang membutuhkan sedasi lebih dalam[1,5-7,34]
  •  

 

Extra Corporeal Membrane Oxygenation (ECMO)

 

ECMO merupakan terapi suportif yang digunakan pada ARDS berat, yang hanya terdapat di rumah sakit tipe A yang memiliki layanan dan sumber daya tersendiri. ECMO digunakan sebagai terapi penyelamatan nyawa untuk pasien COVID-19 dengan kriteria salah satu di bawah ini:

 

     

  • PaO2/FiO2 <80 mmHg selama >6 jam
  •  

  • PaO2/FiO2 <50 mmHg selama >3 jam
  •  

  • pH <7,25 dengan PaCO>60 mmHg selama >6 jam[1,5-7,34]
  •  

 

Beberapa kontraindikasi absolut dan relatif perlu menjadi pertimbangan terapi ECMO, seperti ventilasi mekanik >10 hari, clinical frailty scale kategori ≥3, gagal organ multipel berat, dan kontraindikasi pemakaian antikoagulan.[1,5-7,34]

 

Vitamin

 

Pemberian vitamin yang dapat diberikan pada derajat berat atau kritis adalah vitamin C, B, dan D. Dosis yang disarankan adalah:

 

     

  • Vitamin C: dosis drip IV 200‒400 mg/8 jam dalam 100 mL NaCl 0,9%, yang dihabiskan dalam waktu 1 jam
  •  

  • Vitamin B1: dosis 1 ampul IV, setiap 24 jam
  •  

  • Vitamin D suplemen: dosis 400 –1.000 IU/hari (sediaan tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk sirup), atau obat dosis 1.000–5.000 IU/hari (sediaan tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU)[34,44-46]
  •  

 

Antivirus

 

Pilihan jenis antivirus pada derajat berat atau kritis umumnya sama dengan derajat sedang, yaitu favipiravir atau remdesivir. Dosis antivirus yang dapat diberikan adalah:

 

     

  • Favipiravir (sediaan 200 mg): dosis loading 600 mg/12 jam peroral pada hari ke-1, dan selanjutnya 2 x 600 mg peroral pada hari ke-2 hingga ke-5
  •  

  • Remdesivir: dosis 200 mg IV drip pada hari ke-1, dilanjutkan 1 x 100 mg IV drip pada hari ke-2 hingga ke-5 atau hari ke-2 hingga ke-10[34]
  •  

 

Kortikosteroid

 

Pemberian kortikosteroid pada COVID-19 dipercaya dapat menurunkan mortalitas pada pasien dengan ventilasi mekanik invasif, karena memodulasi inflamasi yang menyebabkan kerusakan paru dan menurunkan progresifitas gagal nafas. Oleh karena itu, kortikosteroid hanya diberikan pada pasien gejala berat yang mendapat terapi oksigen atau kasus berat dengan ventilator.[55,67]

 

Deksametason dengan dosis 6 mg/24 jam selama 10 hari diberikan pada kasus berat yang mendapat terapi oksigen atau kasus berat dengan ventilator. Atau dapat digunakan kortikosteroid lain yang setara, seperti metilprednisolon 32 mg, atau hidrokortison 160 mg.[34,47]

 

Anti Interleukin-6

 

Interleukin-6 (IL-6) merupakan sitokin yang berperan dalam regulasi respon imun, hematopoiesis, dan inflamasi. Saat infeksi dan kerusakan jaringan terjadi, IL-6 akan terbentuk dan berefek protektif melawan stress maupun trauma pada tubuh. Namun, peningkatan produksi IL-6 yang terlalu tinggi dapat menyebabkan komplikasi fatal seperti systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dam gangguan imun kronik.[48,49]

 

Obat anti IL-6 dapat digunakan sebagai terapi target sitokin untuk mencegah komplikasi. Terdapat dua jenis obat anti IL-6, yaitu tocilizumab dan sarilumab, tetapi  yang sudah tersedia di Indonesia hanya tocilizumab.[48,49]

 

FDA sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat tocilizumab untuk pasien COVID-19 dewasa dan anak yang berusia 2 tahun ke atas pada kriteria tertentu, yaitu pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid sistemik dan membutuhkan suplementasi oksigen, ventilasi mekanik noninvasif, ECMO. Tocilizumab tidak diizinkan untuk diberikan pada pasien COVID-19 yang berobat jalan.[34,48]

 

Ketentuan pemberian tocilizumab adalah:

 

     

  • Dosis tunggal 8 mg/kgBB, dan dapat diberikan 1 kali lagi dosis tambahan apabila gejala memburuk atau belum ada perbaikan
  •  

  • Jarak pemberian dosis pertama dan kedua minimal 12 jam, dengan maksimal pemberian 800 mg per dosis[34,48]
  •  

 

Antikoagulan

 

Pemberian tromboprofilaksis diperlukan pada pasien derajat berat atau kritis untuk mencegah komplikasi tromboemboli. Pada pasien derajat berat atau kritis, terapi antikoagulan standar yang disarankan adalah:

 

     

  • Enoxaparin: dosis 2 x 40 mg/hari subkutan, atau

  •  

  • Unfractionated heparin (UFH): dosis 3 x 7.500 unit/hari subkutan

  •  

  • Pada pasien dengan klirens kreatinin <30 mL/menit, dapat diberikan terapi standar 3 x 7.500 unit sehari subkutan. Pemberian antikoagulan sangat bergantung pada berat badan dan klirens kreatinin[34,50]
  •  

 

Terapi Simptomatik

 

Terapi simptomatik seperti antipiretik, analgetik, mukolitik, antitusif, dan ekspektoran, diberikan pada pasien sesuai dengan tanda dan gejala pasien.[34]

 

Terapi Komplikasi dan Komorbid

 

Pada pasien dengan keadaan syok sepsis, diberikan tata laksana sesuai pedoman. Demikian pula pada pasien dengan komorbid, seperti hipertensi dan diabetes mellitus, dapat diberikan terapi dan pemantauan sesuai penyakitnya.[34]

 

Pada pasien dengan kecurigaan sepsis karena koinfeksi bakteri dapat diberikan antibiotik dengan pilihan sesuai kondisi klinis, fokus infeksi, dan faktor risiko. Pemeriksaan kultur darah dan sputum diperlukan untuk menentukan pilihan antibiotik. [34]

 

Penatalaksanaan Lain

 

Berdasarkan studi, beberapa agen dinyatakan tidak bermanfaat pada pasien COVID-19 sehingga penggunaannya dihentikan, di antaranya klorokuin, hidroksiklorokuin, lopinavir, ritonavir, nitazoxanide, umifenovir, camostat mesylate, dan interferon.[8,9]

 

Sedangkan penggunaan agen di bawah ini diberikan hanya dengan kondisi khusus, yaitu:

 

     

  • Oseltamivir, diberikan hanya jika pasien COVID-19 terbukti terinfeksi virus influenza A atau influenza B[1,34]

  •  

  • Azitromisin merupakan antibakterial yang memiliki efek antiviral, tetapi hanya diberikan pada gejala berat. WHO tidak menganjurkan pemberian antibiotik rutin pada gejala ringan, sedang, dan tanpa gejala. Banyak penelitian telah menunjukkan tidak ada manfaat dalam pemberian azitromisin pada pasien COVID-19 ringan, sedang, atau asimtomatik[34,51,52]

  •  

  • Ivermectin hanya digunakan dalam rangka uji klinis di beberapa rumah sakit di Indonesia. Hingga kini, WHO tidak merekomendasikan penggunaan ivermectin pada pasien COVID-19 kecuali dalam rangka uji klinis. Bukti yang ada saling bertentangan dan dosisnya tidak pasti[34,53,54]

  •  

  • Intravenous Immunoglobulin (IVIG) merupakan salah satu terapi alternatif untuk kasus COVID-19 berat yang mengalami perburukan.[34]

  •  

  • Kolkisin sampai saat ini masih diteliti perannya dalam menurunkan badai sitokin pada pasien COVID-19[34,55]

  •  

  • Plasma konvalesen atau therapeutic plasma exchange (TPE) adalah terapi suportif yang diperkirakan dapat mengatasi cytokine storm[34,56]

  •  

  • Anti IL-1 (anakinra) merupakan antagonis reseptor IL-1 rekombinan untuk menetralisir reaksi hiperinflamasi pada kondisi ARDS[34]
  •  

  • Spironolakton dihipotesiskan mampu memitigasi abnormalitas ekspresi ACE-2, sehingga saat ini sedang dilakukan uji klinik kegunaannya pada penderita COVID-19[34]
Service Lainnya
©2015 RSUD Siti Aisyah All right reserved